Jam karet, mungkin hampir semua manusia Indonesia sering melakukannya, dan lebih celakanya hal ini telah menjadai tradisi dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik dalam melakuakan rutinitas, pekerjaan dan kegiatan peribadatan. Yach mungkin ada benarnya juga kata-kata yang sering dengar bahkan sering kita ucapkan “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.
Seandainya setiap pekerjaan bisa kita lakukan dengan tepat waktu, betapa kita dapat menghemat tenaga dan pikiran kita untuk pekerjaan yang lainnya tanpa harus terkuras pada satu pekerjaan saja. “Time’s Money” istilah yang sering kita dengar atau yang sering kita utarakan dari mulut kita sendiri, yang berasal ungkapan masyarakat Barat. Memang kedengarannya seperti matrealistis, tapi khan dalam hidup ini kita butuh uang untuk memenuhi kebutuhan kita.
Celakanya lagi lelet atau dalam bahasa indonesianya lambat, telah mendarah daging pada diri kita dari pekerjaan yang sepele hingga yang rumit. Contohnya saja begini seorang mahasiswa/pelajar pada umumnya akan lebih sibuk belajar pada saat menjelang ujian, bahkan rela belajar semalam suntuk utuk mengejar/mendapatkan nilai yang sempurna. Seandainya saja didalam dirinya itu sudah terbiasa untuk berdisiplin dalam belajar akan lain ceritanya. Bisa kita ibaratkan mahasiswa itu sebuah teko yang akan di isi langsung dengan ember, pasti air dalam ember itu akan banyak yang tumpah di banding yang masuk dalam teko tersebut. Berbeda jika kita masukkan air kedalam teko dengan menggunakan gayung dan corong. Secara rasio otak manusia itu tak akan bisa memasukkan sesuatu informasi yang banyak dalam waktu yang singkat.
Sudah saatnya kita mencoba mempraktekan dalam kehidupan kita sehari-hari ini untuk berdisiplin, karena dengan disiplin kita bisa menyelesaikan suatu pekerjaan dengan tepat waktu dan hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.