Sabtu, 14 juni lalu sekitar 30 orang mahasiswa FKIP Unlam Banjaramasin mendapat pelatihan jurnalistik oleh Ersis Warmansyah Abbas (EWA). Orang yang paling produktif dalam menulis dan menghasilkan buku di Kalsel. Tujuan dalam pelatihan jurnalistik tersebut beliau ingin membuat sebuah tabloid yang diberi judul “FKIP View’s”. Beliau juga akan menjaring peserta pelatihan jurnalistik tersebut untuk menjadi penulis dalam tabloid tersebut. Acara ini pada awalnya dibuk oleh Pembantu Dekan 3 (PD 3) dan kemudian Dekan FKIP yang terlambat datang. Dalam pelatihan tersebut kami mendapat tips-tips yang diberikan oleh EWA dalam menulis, yang intinya:

1. Jangan pernah membaca dan belajar menulis.

2. Sebelum membuat tulisan tentang sesuatu permasalahan, terlebih dulu kita kosongkan pkiran tentang sesuatu permasalahan yang akan kita tulis tersebut.

3. Jangan pernah membaca permasalahan yang akan kita tulis tapi pahami dulu masalah yang akan kita tulis.

4. Jangan pernah bertanya dan mendiskusikan tulisan yang belum selesai dengan orang lain.

5. Selalu selesaikan tulisan yang kita buat, jangan hiraukan tulisan yang telah selesai dan jangan pernah membandingkan tulisan kita dengan tulisan orang lain.

Kelima teori tersebut awalnya membuat saya bingung karena bertentangan dengan hal-hal yang sering saya lakukan. Misalnya dalam membuat tuisan saya selalu mencoba mebuat kalimat-kalimat yang nyaman untuk dibaca dan mudah dipahami oleh orang lain. Untuk itu saya selalu meminta pendapat kepada teman-teman untuk menyingkronkan antar kalimat-kalimat dalam tulisan saya. Alhasil tulisan saya jarang ada yang selesai. Fatalnya lagi saya selalu berharap tulisan yang saya buat itu selalu membuat heboh dan menjadi buah bibir masyarakat.

Dalam teori EWA yang nomor satu “Jangan Pernah Mebaca dan Belajar Menulis”, beliau menjelaskan bahwa kita tidak perlu lagi belajar cara menulis dengan baik dan benar. Karena dengan modal pelajaran Bahasa Indonesia di SD kita sudah bisa menulis, menulis itu tidak lepas dari 26 huruf dari A-Z dan dengan pola SPOK. Dengan modal itu kita tidak usah takut untuk menulis.

Jangan pernah membaca permasalahan yang akan ditulis tapi pahami”. EWA menjelaskan bahwa setiap permasalahan yang akan kita tulis kalau sudah kita pahami maksud dan tujunnya kita akan mudah dalam menuangkannya dalam tulisan kita sesuai dengan kenyataannya. Dengan syarat kita kosongkan dahulu pikiran kita tentang permasalahan yang akan kita tulis tersebut, agar dalam membuat tulisan tidak dikuasai oleh emosi kita.

Jangan pernah bertanya dan mendiskusikan tulisan yang belum selesai”. Maksudnya dalam membuat tulisan kita dilarang untuk bertanya dan mendiskusikan tulisan kita dengan orang lain, karena orang lain tidak akan pernah tahu ide, maupun gagasan yang akan kita tuangkan dalam tulisan kita. Hal ini bisa menjadi penghambat dalam menyelesaikan tulisan kita.

Dalam poin kelima EWA menjelaskan agar kita selalu menyelesaikan tulisan yang kita buat, karena hanya kita saja yang tahu maksud dan tujuan tulisan yang kita buat tersebut. Dan biarkan apa adanya tulisan yang telah selesai kita kerjakan, jangan pernah dikoreksi karena pembaca sendirilah yang akan menilai kebenaran akan tulisan yang kita buat itu. Serta jangan pernah membandingkan tulisan yang kita buat dengan orang-orang hebat seperti HAMKA, karena kita bukan HAMKA, tapi kita akan sehebat Beliau kalau kita mau terus untuk menulis.

Dalam pelatihan jurnalistik tersebut EWA juga menjelaskan dalam menulis kita tak perlu menunnggu mood untuk menulis, kalau kita menunggu mood kapan kita akan menulis? Mood itu harus dibuat sendiri dengan cara sering berlatih menulis. Menulis juga bukan merupakan atau tidak membutuhkan bakat, karena menurut EWA orang berbakat atau tidak akan terlihat dari hasil karya yang telah dibuatnya. Jangan pernah merasa berbakat menulis kalau belum membuahkan hasil.

Menulis juga bisa menghasilkan Uang, menurut EWA. Karena beliau disamping menjadi Dosen PSP Sejarah FKIP Unlam, beliau juga seorang penulis buku maupun tabloid. Beliau menceritakan bahwa dengan menulis sebuah tabloid yang kebetulan dalam tabloid itu menceritakan tentang “Lihan” orang terkaya di Kalsel, beliau mendapat bayaran yang lebih besar dibandingkan dengan gaji beliau sebagai Dosen selama setahun. Dan pada akhir dari pelatihan jurnalistik tersebut beliau memberikan tugas kepada beberapa orang Mahasiswa untuk mewawancarai Dekan FKIP, PD 1, PD 2, dan PD 3. Tujuannya sudah tentu untuk menjadi berita dalam edisi pertama Tabloid FKIP View’s.