Ah seger banget. Setelah mandi dan sholat subuh, sejenak saya sempatkan untuk membuat coret-coretan di “tugop”. Pagi tadi suasana sejuk + dingin di Asrama haji BJB membuat pikiran saya fres untuk memulai menulis.Suara burung-burung yang berkicau menambah suasana semakin asik mengasikan.

Namun masih ada sedikit perasaan dongkol yang menyangkut di hati. Bagaimana tidak setelah mengecek nilai Final semester genap 2008 yang saya ambil disalah satu blog teman. NIlai-nilai saya bisa di bilang cukup lach, cukup ancur maksudnya. Hehe. Sejarah Agraria A, Sejarah Lokal B+, Pengantar Sosiologi C+,Sejarah Indonesia 6 C, Pengantar Antropologi A, Filsafat sejarah B, Sejarah Australia C, IAD B.

Alhamdulillah.

Insya Allah nilai-nilai saya keseluruhannya bisa dijamin halal 100%. Bukannya narsis nilai-nilai yang saya dapatkan berdasar kemampuan otak saya dalam menyerap pelajaran yang disampaikan para Dosen MK tersebut dan tidak “nyontek” tentunya. Mungkin itulah juga kenapa nilai saya banyak yang kurang beruntung. Hehe. Yach apalah arti sebuah nilai jikalau tidak didapat dengan cara yang tidak benar, dan apalah guna kwantitas jika tidak sesuai dengan kwalitas kemampuan yang dimiliki oleh orang tersebut.

Sebenarnya sayang jika nilai-nilai saya peroleh banyak yang C, pasti akan merubah IPK saya. Yach memang sementara ini dalam penerimaan para pegawai negeri IPK selalu jadi tolak ukur. Walaupun hanya sebagai formalitas saja. Ironis memang di negara kita ini kwantitas selalu menjadi nomor satu dalam berbagai hal dan parahnya lagi sudah merambah kedunia pendidikan. Munafik memang, bagaimana bisa banyak teman-teman lain yang lebih memilih untuk mengambil jalan samping yang tentu saja bisa dibilang nyeleneh (Nyontek), demi mengejar sebuah nilai yang baik bahkan sempurna.

Dan hal ini sepertinya didukung oleh sebagian besar para tenaga pengajar dinegeri kita, dengan cuek terhadap perkembangan para peserta didiknya, yang penting nilai rata-rata mereka bagus walaupun diperoleh dengan cara apapun. Sedikit unik, mungkin hal ini  terjadi karena waktu disekolahan dulu sebagian besar tenaga pendidik kita pernah melakukan hal nyeleneh tersebut.

Dikampus saya contohnya, pada MK SPI yang di ajar oleh seorang Dr, ada beberapa mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas bahkan tak mengumpulkannya tapi toh mereka bisa lulus dengan nilai yang sempurna. Sama dengan teman-teman lain yang mengerjakan tugas, bahkan diantara mereka ada yang rendah nilainya. JAdi kesimpulannya yang belajar dan tidak belajar sama saja ya ga? Hehe.

Yach beginilah keadaan dunia pendidikan yang terjadi di negara kita. Semoga saja Allah SWT memberikan hidayahnya untuk kita semua agar kedepannya dunia pendidikan kita tidak hanya dilihat dari kwantitasnya saja melainkan kwalitasnya juga. Amin.